• Selamat datang di situs Badan Dakwah Islam (BDI) PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
  • Selamat datang di situs Badan Dakwah Islam (BDI) PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
7 Maret 2025

Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran

Jum, 7 Maret 2025 Dibaca 8156x

Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur’an adalah dua peristiwa bersejarah di bulan Ramadhan. Apa perbedaan keduanya?

Secara umum perbedaanya dikaitkan dengan Al-Qur’an, Lailatul Qadar adalah malam dimana Al-Qur’an diturunkan langsung dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia / baitul izzah secara utuh bersamaan dengan penetapan takdir keseluruhan manusia dan makhluk ,  sedangkan Nuzulul Qur’an adalah lebih merujuk pada peristiwa turunnya Al-Qur’an yang disampaikan melalui malaikat Jibril as kepada rasulullah Muhammad saw saat wahyu pertama di gua Hira dan berlanjut diturunkan secara berangsur-angsur hingga menjelang beliau wafat.

Berikut ini penjelasan lebih detail perihal keduanya..

 

LAILATUL QADAR

Malam Lailatul Qadar adalah salah satu malam yang sangat penting yang terjadi pada bulan Ramadan yang mulia. Bahkan dalam Al-Quran surat Al-Qadr ayat 3, Allah SWT menetapkan keutamaan malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.

Mengenai hal ini, diabadikan dalam firman-Nya dalam surah Al Qadr ayat 1 sampai 5 yaitu,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah yang disebut dengan malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan adalah lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Salah satu riwayat dari Ibnu Abbas RA berbunyi:
“Al-Qur’an itu diturunkan dalam Lailatul Qadar di bulan Ramadan ke langit dunia sekaligus semuanya, kemudian dari sana diturunkan sedikit demi sedikit ke dunia.” (HR At Thabrani)

Lailatul Qadar jatuh pada malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana pendapat jumhur ulama. Meskipun tanggal pastinya tidak diketahui, namun terdapat petunjuk dalam Al-Quran dan hadits yang memberikan informasi tentang tanda-tanda dan keistimewaan malam ini.

Salah satunya dalam Hadits Riwayat Ahmad dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mengabarkan jika malam Lailatul Qadar jatuh di malam puluhan ganjil akhir bulan Ramadhan yaitu 21, 23, 25, 27, 29, atau di akhir malam Ramadhan.
اَخْبَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ هِيَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ فِى الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ لَيْلَةَ اِحْدَيْ وَعِشْرِيْنَ اَوْثَلَثَةٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْ اَخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ مَنْ قَامَهَا اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مِنْ ذَنْبِهِ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرّ . (رواه احمد)
Rasulullah SAW mengabarkan kepada kami tentang Lailatul Qadar, beliau bersabda: dia (Lailatul Qadar) di bulan Ramadhan di puluhan yang akhir yaitu malam 21, 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam Ramadhan. Barang siapa mengerjakan bangun untuk beribadah pada malam itu karena iman dan mengharap ridho Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. (HR. Ahmad)

Selain membaca tanda-tanda dan berusaha mendapatkan malam lailatul qadar, kita juga perlu memahami arti dan makna lailatul qadar itu sendiri.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Lc., M.A dalam bukunya Membumikan Al-Quran, memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata Qadar dalam Al-Quran. Terdapat tiga arti pada kata qadar, sebagai berikut:

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan pada QS Ad-Dukhan ayat 3.

Al-Quran yang juga turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi sehingga mereka berhimpitan, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: “pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”

Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-Qur’an antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra du: “Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya wa yaqdiru” (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendakinya).

Pada malam Lailatul Qadar, umat Islam disarankan untuk melakukan ibadah dan memperbanyak amalan kebaikan seperti i’tikaf, shalat malam, tadarus Al-Quran, berdoa, berdzikir, bersedekah, dan berbuat baik pada sesama.  Adapun beberapa doa dan dzikir pernah dijelaskan pada artikel kami yang lain di web ini (https://bdi.pertaminapatraniaga.com/blog/kumpulan-tata-cara-niat-doa-dan-dzikir-terkait-puasa-ramadhan/)

 

NUZULUL QUR’AN

Sebagaimana disebut Imam Ibnu Katsir dalam Kitab al Bidayah wa an Nihayah, Nuzulul Quran secara spesifik terjadi pada tanggal 17 Ramadan 610 M. Adapun dalil yang menerangkan bahwa Nuzulul Quran terjadi pada 17 Ramadan termaktub dalam Al-Qur’an surah Al Anfaal ayat 41 yang berbunyi,

۞ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya sesuatu yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya adalah hak Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil, jikalau kamu beriman kepada Allah serta kepada apa yang Kami turunkan (Al-Qur’an) kepada hamba Kami (Nabi Muhammad SAW) pada hari al-furqān (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan(Perang Badar). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dikutip melalui Tafsir Quran Kemenag, Perang Badar bertepatan pada tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijiriah. Oleh karena itu, sebagian mufasir berpendapat kuat bahwa ayat ini mengisyaratkan bahwa permulaan turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an dimulai pada tanggal 17 Ramadan. Hal ini disepakati jumhur ulama, walaupun ada beberapa yang berpendapat beda terkait tanggal.  Tapi event ini banyak diperingati tiap tahun di beberapa pemerintahan/negara Islam, termasuk Indonesia.

Rasulullah SAW menerima wahyu Al-Qur’an untuk pertama kalinya itu di Gua Hira. Wahyu tersebut diterima Rasulullah dari Malaikat Jibril yang membawanya dari Baitul Izzah. Hal ini didasarkan dari hadits yang diriwayatkan Imam al Hakim dan Ibnu Abi Syaibah melalui Hassan bin Hurair, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas. “Al Quran telah dipisah dari adz-Dzikr, kemudian diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia, kemudian Jibril membawa turun kepada Nabi SAW. Sanad-sanad riwayat tersebut semuanya shahih,” tulis buku Al-Itqan fi Ulumil Qur’an oleh Imam Jaluddin al Suyuthi.

Adapaun wahyu pertama tersebut adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ – ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ – ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ – ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ – ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ – ٥

“Iqra’/Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!, “Dia menciptakan manusia dari segumpal darah., “Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, “yang mengajar (manusia) dengan pena, “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. 

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Lc., M.A menerangkan bahwa kata iqra, pada ayat pertama surat Al-‘Alaq, diambil dari akar kata yang artinya menghimpun. Arti tersebut kemudian melahirkan beragam makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis atau tidak tertulis.

Al-Qur’an menghendaki umatnya untuk membaca apa saja selama bacaan tersebut bermanfaat untuk kemanusiaan. Karena wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tidak menjelaskan apa yang harus dibaca. Demikian dikatakan oleh banyak mufassir.

Membaca bisa berkaitan dengan ayat-ayat yang qauliyah dan ayat-ayat yang kauniyah; tekstual dan kontekstual; tertulis dan tidak tertulis; hal-hal yang tersurat maupun yang tersirat.

Membaca juga bisa dipahami membaca ayat-ayat atau hal-hal yang terkait dengan alam dan segala macam yang ada di dalamnya (ayat-ayat yang kauniyah). Hal yang tersirat, tersembunyi, dan fenomena-fenomena kehidupan secara luas.

Pertanyaannya adalah sudah kah kita sebagai umat Muhammad yang diperintahkan iqra, mampu merefleksikan diri akan pesan-pesan membaca dalam peristiwa Nuzulul Qur’an? Dan mentradisikan membaca untuk memahamai makna kehidupan?

Nuzulul Qur’an harus masuk dalam kesadaran terdalam batin kita. Kita memiliki tradisi teks yang tinggi, untuk membaca dan terus membaca. Menelaah, mendalami, dan meneliti, apa yang dilihat, di dengar dan dirasa, menjadi sebuah ilmu pengetahuan.

Tradisi baik yang telah diajarkan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’in tabi’in sampai kepada para intelektual muslim di masa kejayaan, harus mampu diwariskan kepada generasi sekarang. Kemajuan teknologi informasi, mestinya menjadi pendorong, agar dari generasi ke generasi selanjutnya semakin tercerahkan. Cerdas dan kritis membaca fenomena-fenomena dan tanda-tanda zaman.

 

Dikutip dari :

https://baznas.go.id/artikel/baca/Arti-dan-Makna-Malam-Lailatul-Qadar/181

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6660900/perbedaan-lailatul-qadar-dan-nuzulul-quran-apa-ya

https://kemenag.go.id/nasional/sekelumit-pesan-nuzulul-quran-membaca-Fxcul

 

(Ed BDI/mps)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Info BDI

Badan Dakwah Islam - PT Pertamina Patra Niaga

WEBSITE: https://bdi.pertaminapatraniaga.com
Gedung Wisma Tugu II lantai 1 (Musholla Al-Fattah), JL. HR. Rasuna Said, Kavling C7-9, Kuningan, RT.3/RW.1, Karet, Kecamatan Setiabudi, Kuningan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12920
TELEPON 0215209009
EMAIL admin@bdi.pertaminapatraniaga.com
WHATSAPP 0812